Thursday, August 9, 2018

TERRA GASYA


     Hari ini terasa lebih dingin dari hari hari sebelumnya. Mungkin karena suhu udara lebih rendah, akibat dari adanya angin pasat timur yang bertiup dari benua Australia. Di tambah lagi kota kediamanku ini dekat dengan pantai. 
Yogyakarta.

     Hal pertama yang mungkin kalian pikir setelah mendengar kata 'Yogyakarta' adalah 'Jawa' dan segala kemedokkannya.

But, it's different. Walaupun sekarang kami tinggal di Yogyakarta, kami adalah keturunan asli Sunda. Pekerjaan ayahlah yang mengharuskan kami berpindah pindah tempat. Jakarta, Sulawesi, Lampung, Batam, hingga kalimantan sudah pernah kami tempati. Namun Yogyakarta adalah kota terlama yang kami tempati hingga sekarang. Rumah kami yang sebenarnya ada di Bandung daerah buah batu.
Kami. Maksudnya adalah aku, ayah, ibu dan ketiga Abang ku yang maha absurd.

     Pagi ini, aku harus pergi ke kamar mandi untuk mandi. Iyalah untuk mandi, untuk apa lagi. Tapi rasanya sangat berat. Bukan berat berapa kuintal. Namun dingin ini sangat menjadi. Membuatku harus berpakaian seperti orang Eskimo.

"Bu.. Leera mau mandi buuu" teriakku  ke arah dapur. 

"Mandi aja atuh Leera, ga usah teriak teriak" ibu membalas teriakan ku tak kalah keras.

'lah ibu malah teriak juga :('

Ku putuskan pergi ke dapur untuk mendapati ibu sedang 'riweh' memasak. 

"Ada yang bisa Leera bantu ga bu?" Tanyaku menawarkan bantuan

"Ga usah. Kamu mandi aja sana"

"Engga ah Bu. Leera mau bantu ibu dulu"

"Cepetan sana mandi. Lagian juga tumben mau bantu ibu dulu. Biasanya juga maen lempeng lempeng aja"

"Hehehehe tobat dong bu"

"Alesan ah kamu. Paling juga ga mau mandi karena dingin kan? Cepetan tuh udah mau jam 6 "

Akhirnya aku memutuskan untuk segera memasuki ruangan bak kulkas es di Crusty Crab itu.

"Ibuuuuu. Ko dingin banget sih. Kevin ga usah mandi ya buuu. Plisss"
Suaranya memohon seperti anak kecil ingin permen. Wajahnya so imut dengan mata puppy eyes, membuat siapa saja yang melihatnya, ingin melempar Kevin ke jurang Neptunus.

Ihhhhhh Kevin gila!

Kevin Rakaswara. Kaka Tertuaku. Tertua! Tapi tingkahnya paling kaya bocah.
Ibu udah biasa ngadepin bocah berkumis kaya dia.

"Apaan si bang, inget umur. Ga malu tuh sama bewok" nyinyirku terlihat jengah.

"Ehh bocah ngapa ya! "

"Bocah ko Ngomong bocah wleee"

"Tengil lu" 

"Bang-Ke bang-ke" Ku singkat namanya sebagai kepanjangan dari bang-kevin.

"Ibuuuu!!" Rengeknya pada ibu.

Geli banget bang!!!

"Udah udah sana. Kalian itu udah pada gede. Masa kaya anak kecil Mulu ibu pusing tau. Cepetan sana mandi kalian!"

"MANDI BARENG BU?!" Sontak kami berteriak bersama. Kalo lagi gini aja baru kompak.

"Ya enggalah anak anak ku. Kalian gantian mandinya" ibu berbicara dengan nada yang lembut. Entah itu lembut atau justru sedang menekan esmoci menghadapi anak anaknya.

"Kirain barengan bu.hehhe" jangan pikir itu aku. Siapa lagi kalau bukan Kevin si bangke.

"Cabul!!!!!"

•°°•°°•

     Walaupun kedinginan aku tetap harus mandi. Karena kalo tidak 'bau?'. Bukan. Bau adalah alasan nomor sekian. Alasanku lebih ke takut ibu marah. Siapapun di antero dunia persemutan ga akan tau gimana rasanya kena marah Ibu Hailen Diyanti.

     Setelah beres dengan berbagai proses touch up di kamar. Aku langsung dikagetkan dengan suara debam pintu terbuka dengan keras.

"LEERAAA, JAM TANGAN GUE DIMANA!"
Teriakan itu berasal dari Kaka ketigaku si sompak sejati. Gionara Rakaswara. Sodara ku, ada dua orang berwajah sama di rumah ini.
Gionara dan Gianara. 

"Bang gio biasa aja kali. Masuk tuh assalamualaikum dulu, bismillah dulu ke"

"Ga sempet, cepetan mana jam tangan gue?!!"

"Ga mau ah. Ga akan leera kasih tau. Sebelum abang sopan dikit masuknya"

"Ahelahh. Ribet amat sihhh lu. Dasar cewe! Untung sayang "

"Bukan cewe namanya kalo ga ribet" 
balasku sambil cemberut
     Abang ku yang satu ini. Memang somvlak tapi dia adalah Kaka Paling baik. 'kadang'.
Dia tak urung berbalik badan, menutup pintu, dan berubah sikap menjadi lebih  manis. -menggemaskan!- Tak lupa dia rapikan dulu dasinya. Lalu
'tok tok tok'
"De Leera, yang baik. Boleh Abang masuk ?"

"Lupa assalamualaikum nya.... Udah bismillah belummm??" teriakku dari dalam kamar.

"Eh iya lupa bismillah gue" batin gio

"Assalamualaikum Leera oo Leera"
Gio malah menirukan gaya Upin Ipin menyerukan atok uu atok.

Aku ingin sekali tertawa melihat kelakuan Abang yang satu ini. Mau aja di bego begoin sama adiknya. Ya Allah maapin Leera.
Karena tak kuat menahan tawa. Aku segara membawa tas sekolah, dan membuka pintu. Bukan untuk memberikan jam tangannya tapi untuk

"LARIIIIIIIIIII HAHAHAHAHHAHAHAHHA"
"lEERAAAAAAAAAAAAAAA" Terjadilah aksi kejar kejaran antara tim baik dan tim jahat. *Whahahahahah evil laugh.

Tiba tiba 'bugh'
Aku terjatuh dengan posisi pantat lebih dulu menghantam tehel.

"Aaaaa sakit " ringisku.

Sontak abang Abang ku terbahak, melihat posisi ku sekarang seperti tertimbun gajah bengkak. Bukannya membantu mereka malah tertawa semakin kencang. Ibu juga seperti itu.

"Kalian jahat.. bukannya bantuin malah diketawain, ibu juga ikut ketawa. Leera marah ah" 

Gara gara laknat sama Abang sendiri, jadinya ke gini. Maka barang siapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat balasannya. 

"Udah makanya jangan lari lari. Kamu kan pake kaus kaki, jadi licin. Untung ga kenapa napa"

Aku dibantu berdiri oleh ibu. Kedua abangku masih tertawa terbahak bahak. Lain hal nya dengan gianara. Dia terlihat acuh dan tak bersemangat untuk sedikit tersenyum. Diantara Kaka kakaku. Gian adalah Kaka paling pendiam, cool, dan irit bicara. Tapi dia paling pintar, Bang gian sering juara lomba sains, bahkan sampai tingkat nasional. Sekarang dia kuliah dengan beasiswa yang ga bisa dianggap kecil. Berbagai tawaran ke luar negeri pun dia dapatkan. Otak BJ. Habibie 

"Awas ya kalian aku bilangin sama ayahh"
Ngomong ngomong tentang ayah. Ayah ku jarang pulang. Pulang 2 bulan sekali bahkan kadang satu tahun sekali. Ayah ku bekerja di penerbangan, yaps dia adalah seorang pilot.

•°°•°°•

06.10 WIB

" udah sana cepetan kalian nanti kesiangan. Kevin, kamu antar dulu Leera ya."

"Ga ah Bun. Ngapain nganter ade laknat kaya dia" 

"Jahat kalianss bang. Aku jijiqqq sama kamu bang"

"Iyaa Abang anter ko, anak Spongebob dasar" Kevin beranjak sambil mengacak acak rambutku. 

Begitulah setiap pagi pasti heboh. Namun sebenarnya itulah bentuk kasih sayang mereka pada saudarinya.

    Terdengar derungan motor KLX 150 di depan rumah. Entah kenapa Abang yang satu itu malah memilih motor kecil, padahal dia lebih cocok menggunakan mobil untuk pergi ke kantor, pajero ke atau Jazz ke. Sukanya malah motor kecil. Fiks dia adalah 'bocah brewok'.Suara motor itu semakin bising, menandakan Aku harus cepat cepat keluar rumah.

"Berisikkkk bang, kedengeran kali. Ga usah di derung derung gitu " kataku sedikit teriak.

"Ya udah cepetan. Abang kerja pagi nih"

•°°•°°•


" Nanti kamu di jemput bang gian oke, dia ada kelas siang. Jangan maen dulu, langsung pulang ke rumah. Awas kalo leor kaya ular" Kata bang Kevin mengingatkanku

"Yahh , kenapa sama bang gian. Sama bang gio aja lah." Aku sedikit takut jika berada dengan bang gian. 

"Kenapa? Kan sama. Wajahnya aja sama. Mereka kembar leera wkwkw "

"Bukan wajahnya, leera takut boring di jalan. Ntar lewat kuburan makin sepi. Gimana kalo ada penjahat terus nanti malak bang gian kan pendiem nanti jadi ga bisa ngelawan dia malah ngasih rumus matematika sama itu penjahat terus aku yang di cul-"

"Berisik lu. Ngomong ga pake titik koma. Udah Sono, pusing gue punya Adik kaya lu"

"Ihhhh iyaa sono Sono pergi dasar manusia"

Motornya membuat kabut lokal yang tiba tiba saja mengganggu suasana pagi. Emang argghh :)

•°°•°°•°°•°°•°°•°°•°°•

     Di sepanjang lorong, tak banyak terlihat siswa berlalu lalang.
Kulihat jam tangan ku

07.20 WIB

'sepuluh menit lagi Bell masuk'

"Awwwwwww" spontan aku berteriak, karena merasakan cubitan keras di daerah tangan ku.  

Aragasya Wiratmaja. Teman setingkatku yang megakamvred. Dia satu satunya teman cowok yang ga tau malu. Tingkah nya sama seperti bang Kevin.
Kadang suka mikir. Kenapa hidup gue di kerumuni makhluk makhluk astral macam ikan kembung kaya gini :(

"Pagi aleee " sapanya disertai cengiran kuda.

Aleira Alfa Rakaswara. Namaku cukup bagus, kalo dibandingkan dengan bi icah tukang jualan lotek depan sekolah. Tapi dia berani' beraninya memanggil ku dengan merk minuman.

"Ale? Heh wirat! Jangan panggil aku Ale ! " Sengaja ku pakai wirat. Untuk membalas perlakuannya.

"Jangan panggil aku anak kecil paman. Namaku 'ALE ALE' " Dia lalu berlari seperti orang menghindari bom atom.

"Hiyaaaaaaaaa... Manusia Pluto"

•°°•°°•°°•

XII MIA 5

Iya aku adalah seorang siswi di SMA Merdeka Raharja 1.

"Assalamualaikum" disini, salam adalah suatu kebiasaan yang menjadi kewajiban. Walaupun kadang cara bicara kami berubah ubah, tapi sopan santun kami sangat dijaga.

"Heyyy leeraaaa.."

 Ini adalah salah satu alasanku suka dengan Yogyakarta. Teman temanku. Mereka sangat baik, tak pernah lupa setiap aku datang. Mereka menyapa ku, melemparkan satu senyuman, Mendusel dusel pipiku, Bahkan ada yang memelukku. Sedikit menggelikan. Namun itu adalah bentuk perhatian dari mereka. Aku senang berada di tengah tengah mereka.
Mereka. Ga semua penghuni kelasku bersikap seperhatian itu, hanya beberapa, lebih tepatnya ada 7 orang. Mereka semua unik dengan segala sifat sifatnya.
   Diana dan para adalah pecinta Korea, setiap hari mereka isi dengan hal hal berbau Korea, Kalo tidak percaya, tanyakan satu judul drama Korea, mereka akan langsung menjelaskannya dengan  mata yang berbinar.
   Gaina, dia yang paling ribet. Semua hal kecil dia permasalahkan. Sampai sampai dia bertanya kenapa kucing itu kemarin hamil. Kritikal thinking.
   Sasa dia adalah orang paling jutek diantara kami, prinsip hidupnya 'Hidup bahagia atau kamu saya bunuh' dia yang paling tua diantara kami.
   Keila, dia adalah 'mamah dedehnya kelas Mia 5' karena kenapa? dia paling dewasa dan dijamin cocok buat dijadiin tempat curhat. Anehnya dia adalah orang yang mungkin bisa dikatakan 'anti jajan' entah kenapa tapi dia lebih suka berdiam diri di kelas dibanding pergi ke kantin dan berantri ria.
   Lalu ada Hrysaxakji dia adalah satu satunya orang dengan nama terunik.  Membacanya saja kadang membuat guru sejarah berdecak kesal. Hobi dia cuma satu 'nangis gara gara pacarnya minta putus",
  yang terakhir ada Reina dia memiliki banyak kemiripan dengan ku, bukan dari segi penampilan, tapi dari segi sifat dan kepribadian. Kami sama sama masih seperti bocah, polos memang tapi kami paling sering mengalah, Sama sama suka menggambar, kadang kami memperebutkan hal kecil. Seperti warna, gambar cogan, atau bahkan uril pensil.
   Dan aku. Aku yang paling muda diantara yang lain, bahkan diantara satu kelasku. Mereka  semua sudah lulus sensor dan berhak memilih cagub, aku hanya bisa berdiam diri menikmati coklat dan es mangga. Aku tidak unik seperti mereka, kecuali kebiasaan ku yang selalu membeli susu murni saat dormansi tiba. Dan satu lagi, aku adalah orang yang cengeng, gampang menangis hanya karena ditakuti hantu. Jangan mempermainkanku, tapi mari bermain bersama.

Aku mungkin adalah salah satu orang beruntung. Memiliki ayah yang tegar, ibu yang hebat, Abang yang penyayang, juga  teman teman yang baik.

Tapi..

Itu dulu

     Sekarang aku sedang menatap sebuah buku usang. Yang sudah terbasahi air asin ini. Duduk menghadap jendela, beralaskan kursi kayu. Menangkup buku berisi curhatan hatiku 20 tahun yang lalu. Masa masa dimana aku sangat bahagia. Semua terasa begitu nyata, suasana itu Kembali menyentuhku. Membuat ku harus terlempar ke lorong waktu nan jauh lebih  lalu. Hatiku terasa sakit.

Aku rindu!


Aku~


Rindu


Hari itu.

•°°•°°•°°•°°•°°•
Author note :
Ciaooo, bagiamana cerita absurd nya wkwkwk. Itu hanya tulisan, yang didalamnya terdapat harap, dan ketakutan. Storynya terlalu monoton mungkin. Anyway, kita ga bisa memaksakan hidup seperti yang kita mau. Right?.  Penggunaan bahasa masih acak acakan :') but to be better di kuein aja. Tinggalkan sepatah dua patah kata yuu di kolom komentar :)
Kira kira, mending lanjut bikin cerita Ara sama Ale ga?
Terimakasih yang sudah membaca!!